Indahnya Berjuang Dengan Pena Sebagai Penulis


Sekitar dua tahun lalu, saat menunggu efek obat untuk tes MRI hilang, saya menunggu di kantor istri, di depan RSHS, yaitu kantor Fakultas Kedokteran.

Kemudian datanglah Arjan (baca: Arian), seorang mahasiswa PhD neurologi dari Belanda yang sedang menulis untuk jurnal kedokteran bergengsi bersama istri saya. Dia pun lalu duduk bersama kami dan menanyakan perkembangan kesehatan saya–dalam bahasa Inggris, bukan dalam bahasa Belanda tentu saja. Istri saya menjelaskan secara detail dan kami pun beralih ke percakapan lainnya.

Saya bertanya kepadanya, apakah dia senang tinggal di Indonesia?

Dia menjawab bahwa dia senang sekali tinggal di sini.

Saya lalu bercerita tentang seorang mahasiswa PhD bidang planologi dari New York, Amrik, yang datang ke ITB. Awalnya dia merasa bahwa tak banyak hal yang bisa dijadikan bahan disertasi kalau di Amrik. Tata kotanya sudah rapi jali. Dia ingin tantangan yang lebih menggairahkan. Maka, dia ungkapkan hal itu kepada profesor yang jadi promotornya.

Maka, sang profesor pun menyuruh dia ke Indonesia. Dia terkejut: “Kamu gila?” ujar dia kepada profesornya.

Sang profesor balik bertanya: “Kenapa?”

Sang mahasiswa menjawab: “Mereka muslim. Mereka akan membunuh saya!”

Sang profesor langsung membantah: “Kamu ini termakan oleh media kita. Saya sudah berulang kali bolak-balik ke Indonesia, dan saya masih hidup sehat wal afiat. Media kita memang terlalu berlebihan dalam membuat berita. Sudah, saya buat surat pengantar, kamu pergi ke Indonesia.”

Lalu sang mahasiswa menyimpulkan: “Iya, media di Amerika memang berlebihan. Saya sudah 6 bulan di Indonesia, dan belum pernah sehari pun saya dimaki oleh orang-orang saat di jalan. Di New York, setiap hari pasti saja ada yang memaki-maki saya saat di jalanan.”

Dan yang lebih penting lagi, untuk berlimpah ruahnya masalah planologi yang bisa dijadikan bahan disertasi, Indonesia adalah surganya 😀

Arjan pun mengiyakan, betapa menyenangkannya tinggal di Indonesia. Dia lalu bercerita soal kakaknya yang kini bertugas di kedutaan Belanda yang ada di Sudan, soal ketegangan dan konflik di sana dan lain sebagainya; bagaimana orangtua mereka mencemaskan keselamatan kakaknya.

Lalu saya teringat saat rapat di Salman.

Saya berkata kepada teman-teman yang lebih muda begini:

“Lihatlah jazirah Arab yang sedang panas bergolak serta dilanda konflik ini itu, perang dan radikalisme agama. Saat ini, Islam Indonesia seharusnya bisa menjadi representasi bagaimana wajah agama Islam itu sebenarnya dan bukannya malah mendatangkan fitnah terhadap agama sendiri, yaitu terhadap Islam, dengan saling mengkafirkan, mengidentikkan isi Al-Quran dengan obsesi politik yang lalu diusung-usung jadi ideologi politik, seolah jihad itu adalah membunuh siapa pun yang tidak sejalan dan tidak satu kelompok, dan lain sebagainya.

Mari jihad dengan pena. Tunjukkan bahwa orang Islam itu bisa berpikir kritis, filosofis, mendasar serta pemahamannya tidak dangkal dan cuma modal ayat-ayat Al-Quran yang sudah ditafsir sesuai kepentingan kelompoknya.

Bukan cuma bisa menulis hal-hal yang bikin panas orang lain dan ternyata hanya gosip isapan jempol. Jangan hanyut oleh romantisme kejayaan Islam di masa lalu; itu sudah berlalu.

Hari ini giliran kita, zaman kita, bukan zaman mereka lagi. Fazlur Rahman pernah datang ke Masjid Salman dan dia berkata bahwa kebangkitan kembali Islam akan dimulai dari Indonesia. Saya termasuk yang meyakini itu. Mari berjihad dengan pena.”